Kisah Santri Rutan Batang Meriahkan Hari Santri Nasional

WhatsApp Image 2019-10-22 at 10.51.46(1)Huda adalah pemuda yang buta huruf karena tidak sekolah, suatu hari ia diminta tolong oleh seseorang untuk menaruh bungkusan plastik kecil dibawah sebuah pohon. Ternyata bungkusan tersebut adalah sabu-sabu dan iapun masuk ke penjara. Namun keberadaanya di penjara justru awal balik dari kisah hidupnya. disana ia bisa mondok dan belajar agama. Itulah sepenggal kisah drama “kisah santri Rutan Batang” yang dipentaskan oleh para santri Pondok Pesantren At-Taubah Rutan Batang (selasa, 22/10) di aula serbaguna Rutan Batang. Pertunjukkan drama tersebut untuk memeriahkan Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober. Selian diisi drama, peringatan Hari Santri Nasional juga diisi dengan tausiyah dari penyuluh agama Kementerian Agama Kabupaten Batang. Tampak hadir dalam acara tersebut perwakilan dari Kementerian Agama Kabupaten Batang, Muhammadiyyah, MUI Batang, Ponpes Al-Ikhsan III dan diikuti oleh seluruh pegawai dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Dalam sambutannya, Kepala Rutan Batang Yusup Gunawan menyatakan apresiasi kepada para santri Rutan Batang yang kreatif disamping keseriusan dalam belajar agama di Rutan. Yusup menambahkan pihaknya akan berupaya menjalin kerjasama dengan instansi terkait agar WBP khususnya yang masih diusia sekolah bisa melanjutkan sekolah didalam Rutan sehingga nantinya bisa mendapat kesempatan untuk terus malanjutkan belajar dan mendapat ijazah.

Sementara ustadz Hijroh Saputra dalam tausiyahnya mengajak semua WBP untuk menjadi santri. “santri adalah orang yang serius dalam belajar agama, baik didalam pesantren, sekolah formal maupun di majelis-majelis taklim. Untuk itu jadilah kita santri yang terus belajar agama dimanapun” ajaknya.

Hijroh juga mengapresiasi Rutan Batang yang telah berhasil mengelola dua blok santri. “saya apresiasi dengn Rutan Batang yang konsisten dengan pembinaan agama dengan keberhasilannya dalam mengelola blok santri” kata Hijroh.